
FTK UIN Ar-Raniry Yudisium 592 Calon Wisudawan
Banda Aceh (Ar-Raniry)— Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Ar-Raniry Banda Aceh meyudisium 592 calon wisudawan pada Yudisium Gelombang I dan II Tahun 2026 yang berlangsung di Auditorium Ali Hasjmy, Kamis, (9/6/2026).
Dekan FTK UIN Ar-Raniry, Prof Safrul Muluk mengapresiasi para peserta yang telah menyelesaikan pendidikan mereka. Ia menekankan pentingnya kompetensi dan kualitas lulusan agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
“Lulusan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan harus mampu menjadi sumber daya manusia yang profesional, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Kompetensi yang dimiliki harus menjadi modal untuk bersaing tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga di kancah nasional dan internasional,” kata Safrul Muluk dalam sambutannya.
Menurut dia, lulusan FTK diharapkan mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat dengan mengamalkan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan. Tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks, kata Safrul, membutuhkan pendidik yang berintegritas, berwawasan global, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kelembagaan FTK UIN Ar-Raniry, Prof Buhori Muslim melaporkan sebanyak 592 peserta yudisium berasal dari 13 program studi. Seluruh peserta telah memenuhi persyaratan akademik dan administratif yang ditetapkan fakultas.
Selain prosesi yudisium, kegiatan tersebut diisi orasi ilmiah oleh Dr. Nashriyah bertajuk “Rekonstruksi Epistemologi Tarbiyah: Aktualisasi Peran Pendidik dalam Mitigasi Kekerasan terhadap Anak di Satuan Pendidikan.”
Dalam orasinya, Nashriyah menyoroti masih terjadinya berbagai bentuk kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan, mulai dari perundungan, kekerasan seksual, hingga kekerasan berbasis gender di ruang digital.
“Putuskanlah mata rantai kekerasan di sekolah dan madrasah kita. Tugas terbesar seorang guru adalah memastikan tidak ada air mata ketakutan yang jatuh di lantai kelasnya,” ujar Nashriyah.
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris sekaligus Koordinator Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Ar-Raniry itu mengatakan konsep tarbiyah tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga mencakup proses membimbing, merawat, dan memastikan perkembangan peserta didik berlangsung secara optimal.
Ia menilai perspektif perlindungan anak dan kesetaraan gender perlu diintegrasikan dalam praktik pendidikan. Di tengah meningkatnya kasus perundungan siber dan kekerasan berbasis gender secara daring, pendidik juga dituntut memiliki literasi digital yang memadai.
Dalam kesempatan tersebut, Nashriyah mengajak para lulusan FTK UIN Ar-Raniry menjadi pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga berperan sebagai pelindung, pendamping, dan teladan bagi peserta didik dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan ramah anak. [ ]
